Kamis, 20 September 2012

LAGU UNTUK :Jokowi kini Datang Pasti Menang:

                                                                                                                                                                                                                                                         Tul Jahena Jahe jatul Jahezi betul memang betul kita pilih Jokowi2x.
Ruddy Haryaanto
Jalan jalan ke Pasar Bungur jangan lupa beli Arloji,kalau nanti pilih Gubernur jangan lupa centreng Jokowi.
Tul Jahena Jahejatul Jahezi betul memang betul,kita pilih Jokowi2x.
Jalan Jalan ke tegal alur jangan lupa beli Kuaci,kalau nanti jadi Gebernur jangan lupa Warga DKI.
Oo oo….. Iwak peyek iwak peyek nasi jagung sampai tue sampai elek Jokowi kita dukung2x.
Iwak peyek iwak peyek nasi gulai sampai tuwe sampai nenek,Jokowi memang ok.
Oooo….Disini aku menghibur kamu bersamamu berjoged menari
Disini aku menghibur kamu bergembira bersama Jokowi*****(lagu ini saya nyanyikan malam selasa,tanggal 18 septembr tahun 2012 pukiul,11 malam.(Ruddy Haryanto)

http://www.blogger.com/video-thumbnail.g?contentId=965e15ea04d7ce74&zx=v3fdsnfkxn2

Jakarta Sinar Pagi News, Mantan wakil presiden Jusuf Kalla melontarkan istilah baru ketika memberikan keterangan kepada Tim Pengawas Kasus Bank Century di Gedung DPR, Rabu Jusuf Kalla menyatakan proses pembahasan hingga muncul keputusan memberi bail out Rp 6,7 triliun kepada Bank Century merupakan operasi senyap dan di luar pengetahuannya.

Pemberian dana talangan ke Bank Century ini melalui operasi senyap sehingga menjadi masalah hingga saat ini.

Menurut Jusuf Kalla kasus ini bermula ketika Bank Indonesia memberikan dana talangan ke Bank Century sebesar Rp 50 miliar pada 13 November 2008, tapi tidak memberikan laporan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Jusuf Kalla.

Jusuf Kalla menyatakan tertarik persoalan pemberian dana talangan ke Bank Century ini karena menilai persoalan sangat besar,tapi dasar hukumnya tidak jelas. Karena itu, ia kemudian memanggil Menteri Keuangan Sri Mulyani dan beberapa pejabat terkait lainnya, ke Istana Wakil Presiden, 20 November 2008.

Menurut Kalla, pada rapat tersebut Sri Mulyani dan pejabat lainnya menjelaskan akan terjadi krisis keuangan. Saya bertanya kepada Sri Mulyani, mengapa memberikan dana talangan ke Bank Century,kata Kalla.

Sri Mulyani saat itu menjelaskan dan mendapat laporan dari Bank Indonesia,yang menyebut krisis Bank Century bakal berdampak sistemik sehingga perlu diberi dana talangan. Menurut Kalla, Sri Mulyani saat itu menyatakan dirinya ditipu Bank Indonesia.Saya tidak mengetahui dan ini memang misterius,katanya.

Kalla mengaku marah kepada Boediono,saat itu Gubernur BI ketika melaporkan bahwa dana Rp 2,5 triliun untuk Bank Century raib. Jusuf Kalla tak tahu ternyata dana telah dikucurkan BI.

Saya marah kenapa Anda lapor keadaan begini Rp 2,5 triliun sudah hilang. Berarti Anda dirampok dong? Iya dirampok. Itu percakapan saya dengan Boediono, duit diambil pemiliknya Robert Tantular. Karena itu tangkap yang merampok. Tidak mau ditangkap pula, terpaksa saya perintahkan Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri,tangkap rampoknya Robert dalam dua jam. Pak Kapolri lalu perintahkan Pak Kabareskrim Komjen Susno Duadji ujar Jusuf Kalla.

Menurut Kalla, saat dana talangan Century dikucurkan, Presiden sedang dalam kunjungan ke luar negeri sebagai wakil, Kalla bertanggung jawab mengawal jalannya pemerintahan. Namun,dalam rapat, dia tak pernah diberitahu tentang rencana Bank Indonesia mengucurkan dana talangan.

Bahkan ketika uang akhirnya dikucurkan pada 23 November 2008,Jusuf Kalla masih tidak diberitahu. Dua hari berikutnya pada 25 November 2008 pagi, dia bersama beberapa menteri di bidang ekonomi menggelar rapat.

Kalla juga mengungkap peristiwa ketika empat menteri dan Gubernur Bank Indonesia menemuinya pada 13 Oktober 2008 mereka minta persetujuan blanket guarantee jaminan penuh atas deposito di bank. Namun, Kalla menolak lantaran pemerintah tidak perlu menanggung kesalahan bank milik asing. Adapun bank milik negara sudah dijamin penuh.

Politisi Golkar ini mengatakan, solusi yang disetujuinya ketika itu adalah meningkatkan jaminan deposito dari Rp 200 juta menjadi Rp 2 miliar. Namun, kata dia, rupanya tim perekonomian pemerintah membutuhkan "senjata pamungkas" untuk penggelontoran dana. Maka keluar Perppu Nomor 4 Tahun 2008 tentang Jaring Pengaman Sistem Keuangan.

Ketua Palang Merah Indonesia ini mengaku tidak ikut dalam pembicaraan penerbitan perppu,dia menilai perppu itu tidak adil dan janggal lantaran Menkeu diberi kewenangan tidak terbatas,untuk mengeluarkan berapaun,dana asalkan alasannya akan berdampak sistemik.

Saat itu tak ada bahasan tentang dana talangan untuk bank milik Robert Tantular tersebut. Barulah pada malam harinya dalam rapat terbatas yang dihadiri Menteri Keuangan Sri Mulyani dan Gubernur Bank Indonesia Boediono, dia diberitahu tentang dana talangan untuk Bank Century,saya sama sekali tidak tahu, padahal mereka rapat malam dan itu dirahasiakan katanya.

Ketika rapat pada 20 November sore Jusuf Kalla dilapori, bahwa keadaan ekonomi Indonesia terkendali,tapi malamnya krisis besar, negeri ini gila memang, kata Kalla.

Rapat Tim Pengawas Kasus Bank Century dipimpin Wakil Ketua DPR, Pramono Anung Wibowo dan dihadiri oleh anggota Tim Pengawas Kasus Bank Centiry, DPR dari sembilan fraksi. Semula Jusuf Kalla dijadwalkan akan memberikan penjelasan pada rapat Tim Pengawas Kasus Bank Century DPR RI pada Rabu, 12/9 tapi karena saat itu masih berada di Cina, sehingga ditunda seminggu kemudian.

Terkait dengan rapat di Istana Negara 9 Oktober 2008 yang dihadiri Antasari Azhar sebagai Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi KPK, Jusuf Kalla mengakui tidak diundang di acara tersebut, saya memang tidak diundang meski saat itu saya berada di Jakarta kalau diundang oleh Presiden, saya akan menghadiri, acara yang lain saya batalkan ujar Kalla.

Menurut Kalla ia tidak mempersoalkan diundang atau tidak diundang oleh Presiden karena sangat menghargai undangan Presiden,sebaliknya kalau tidak diundang oleh Presiden, tidak perlu dipersoalkan" katanya.

Pada kesempatan itu, anggota Tim Pengawas Kasus Bank Century dari Fraksi Partai Demokrat, Achsanul Qosasi, menanyakan ketidakhadiran Jusuf Kalla pada 9 Oktober 2008 karena jadwalnya di Istana Wakil Presiden sangat padat. Pada Rabu minggu lalu Antasari membenarkan ada rapat terbatas di Istana yang dipimpin Presiden SBY 9 Oktober 2008.

"Saya sebagai Ketua KPK diundang pada rapat terbatas tersebut, kata Antasari, menurut dia pada rapat itu SBY, membicarakan antisipasi kemungkinan terjadinya krisis ekonomi. Antasari menegaskan, SBY sama sekali tidak membicarakan soal Bank Century apalagi menyangkut bailout.
(Ruddyjaksel)

KEMENANGAN JOKOWI - AHOK MERUPAKAN SUARA RAKYAT, KOALISI PARTAI BESAR BLUNDER

Jakarta,,Sinar Pagi News,,Kemenangan Jokowidodo - Ahok merupakan suara rakyat,koalisi Parpol besar Blunder.

Kemenangan jokowidodo Ahok,dalam laga pemilukada putaran kedua,DKI Jakarta merupakan kemenangan suara rakyat.Ibarat Gajah melawan Semut,dikatakan Gajah lantaran Fauzi Bowo merupakan calon incumben yang didukung oleh kualisi Parpol besar,sekaligus didukung oleh partai penguasa saat ini.Kualisi parpol besar yang mengarahkan dukungan ke pasangan Poke/Nara,yakni,partai berlambang mersi Demokrat.Demikian partai berlambang mata hari/PAN,Partai berlabang Kabah PPP,partai Golkar partai PKS.Selain didukung dari kualisi partai besar,pasangan Poke/Nahrowi,juga didukung oleh puluhan ormas.Sementara Jokowi dikatakan semut,karna pasangan ini hanya mengandalakan dukungan akar rumput atau kualisi rakyat,namun kenyataanya pertarungan antara Gajah dan Semut,berhasil dimenangkan oleh semut,karna semut berada dimana mana.

Sehingga dukungan kualisi besar terhadap Poke Nara,menjadi blunder.(ruddy).